Nama gw Faried, saya bermukim di suatu hotel berbintang empat. Kerjaan yang enak sebenernya, dapat liat-liat kamar orang sembarangan, dan kisah ini ialah saat gw dapet jackpot di suatu kamar.
Aku Sedang sedang bareng pacarku canti yang semok dan sudah tentunya semok.
Saya terHoneyun ketika ia menikmati ada jari-jari halus meraba-raba dadanya dan ciuman di keningnya. Ayu sudah lebih dahulu Honeyun dan dia memHoneyunkan lelaki itu. Ayu mengecup bibir tebal tersebut perlahan dan mereka pun tercebur dalam suatu “french kiss”. Tangan Faried mengelusi punggung putih mulus Ayu sedangkan Ayu mengelus-elus rambutnya.
“Sayang…bukannya hari ini mesti ke bandara? Nanti telat” kata Faried.
“Masih terdapat waktu…” jawab Ayu “pesawatnya berangkat senja jam lima, mengapa gak anda habiskan bareng saja?”
“Apa gak bakal ada orang beda lagi ke sini? Kalau anda ketauan kan gak enak” Faried agak was-was bila ketahuan ia sedang meniduri wanita tabungan orang kaya, bisa-bisa digebuki laksana di film-film.
“Nggak…dia terlampau sibuk jam-jam segini, nanti baru nyusul di bandara” Ayu tersenyum kemudian mengecup pulang bibir Faried. “pokoknya Honey…sekarang ini waktu hanya buat anda berdua, santai dan nikmati aja!”
Ayu mulai menciumi sekujur tubuh sopir taksi itu, menjilati dadanya dan menggelitiki putingnya dengan lidahnya. Tangannya menjalari sekujur tubuhnya dan meraba-raba batang kelelakian Faried, memainkannya, membelai dan mengurutnya sampai-sampai penis tersebut pun Honeyun dari tidurnya. Ayu tersenyum. Perlahan, disusurinya perut, pusar dan pinggangku dengan lidahnya.
“Eeemmhh…Sayang!” desah Faried yang menikmati geli-geli nikmat yang membuatnya merinding. Ia mengusap-usap kepala Ayu dengan sarat kelembutan. Disisirnya rambut wanita tersebut dengan jari-jarinya dan sesekali diraba-raba tengkuk dan balik telinganya.
Perlahan jilatan lidah Ayu semakin turun ke arah selangkangan Faried. Dengan jemari tangan kirinya yang halus, ia menggenggam penis Faried, mendongakkannya, dan dia mulai menjilati wilayah pangkalnya.
Disusurinya penis tersebut dengan lidahnya sampai ke ujungnya yang bersunat. Ia memutar-mutar ujung lidahnya ke arah luHoney dan sekitarnya pada ujung batang penis lelaki itu. Ia memang profesional dalam menciptakan Faried merasa laksana melayang.
Dari ujung penis itu, Ayu pulang menyusurinya sampai ke bawah, menjilat-jilat buah pelirnya, sesekali mengecup dan agak menghisapnya. Rasa mengherankan antara sakit, geli, dan enak menciptakan Faried menggeliat-geliat.
“Enakkhh…Sayang…geli…uuhh” desah Faried seraya meremasi rambut Ayu.
Ayu memandang pria tersebut dengan pandangan mata yang menggemaskan
“Sungguh bidadari sejati.. alangkah cantiknya anda Ayu!” kata Faried dalam hatinya
Tiba-tiba Ayu berhenti mengerjakan oral seksnya. Dia mendekati wajah Faried. Menciumnya dengan mesra dan lembut bibir tebal lelaki itu. Kemudian ia mengembalikan badannya dan membelakangiku, laksana posisi “69”. Ia memegangi penis Faried dan mulai menghisap, mengulum dan menjilatinya.
Kembali rasa geli dan nikmat mendera lelaki itu. Ia menghirup wangi harum yang khas dari gerHoney kewanitaan Ayu yang terpampang menantang di depan wajahnya. GerHoneynya telah mulai terbuka, berwarna merah muda dengan dihiasi bulu-bulu halus dan dipotong rapi. Penisnya berdenyut-denyut salah satu hisapan dan geseran lidah perempuan itu. Ia memegangi dan membelai pantat Ayu dengan kedua tangannya.
Ia arahkan gerHoney kewanitaannya ke arah mulutnya. Dijilatinya bibir vagina tersebut dan wilayah sekitarnya. Ayu mengerang salah satu hisapan-hisapannya pada batang kemaluan Faried. Vagina tersebut mulai licin dan basah, serta terus menebarkan wewangian yang khas harum sebab rajin dirawat.
Faried mendapati suatu tonjolan kecil salah satu belahan gerHoney kewanitaannya, dijilatinya benda itu. Ayu pun merintih dan mendesis, sejenak mencungkil batang kelelakian tersebut dari mulutnya. Faried menjilat dengan lembut dan sesekali lidahnya menggeser-geser tonjolan kecil yang terdapat di belahan gerHoney kewanitaan Ayu.
“Oooh Honey… kok jilatannya enak Honeyethhh!” kata Ayu salah satu erangannya.
Ayu mengurut dan mengocok penis tersebut makin cepat seraya mulutnya menghisap ujungnya.
Kedua tangan Faried tidak bermukim diam ketika lidahnya beraktivitas. Terkadang jari-jari tangannya menggaruk mesra punggung Ayu dengan lembut, atau meraba, mengelus dan memainkan payudaranya yang menggantung menantang di atas perutnya.
Setelah sejumlah lama saling menjilat, menghisap dan merasakan permainan ini, Ayu beranjak dari posisinya.
“Honey…sekarang yah!” katanya seraya memegang penis yang tegang tegak kaku menghadap langit-langit.
Ayu mengangkangi Faried seraya memunggunginya. Ia menunjukkan batang kelelakian tersebut ke gerHoney kewanitaannya. Faried menggeser-geserkan ujung penisnya pada tonjolan kecil salah satu belahan gerHoney kewanitaannya untuk menolong penisnya masuk. Ayu memejamkan matanya seraya mendesah ketika penis pria tersebut memasuki liang kemaluannya yang telah licin basah. Pelan.. lembut.
Ayu perlahan menurunkan pantatnya, menciptakan penis tersebut masuk semakin dalam. Terus turun sampai akhirnya mentok dan menyisakan kira-kira seperempat dari panjang penis lelaki itu. Ayu agak terpekik ketika ujung penis tersebut menyentuh dinding rahimnya. Kemudian Ayu mulai menggoyangkan pantatnya naik-turun-naik-turun. Pada awalnya perlahan hingga sejumlah gerakan, kesudahannya Ayu semakin cepat.
Mereka merasakan sensasi yang spektakuler saat kedua perangkat kelamin dua-duanya menyatu dan saling bergesekan. Ayu berulang kali mendesah, melenguh, mendesis, meracaukan ucapan-ucapan yang tak jelas. Faried pun menikmatinya dengan benak yang melayang meresapi rasa geli dan nikmat yang menjalari sekujur tubuhnya.
Beberapa menit kemudian, Faried mengusung badannya selama 45 derajat dan bersandar pada kepala lokasi tidur Ayu. Ayu seraya membelakangi bertumpu pada perut pria tersebut dan terus mengayuh tubuhnya naik-turun pada selangkangan pria tersebut divariasikan dengan memutar-mutar pinggulnya.
“Aaaghh.. Sayyanggg..” teriak Faried seraya memegangi pinggangnya yang ramping dan putih mulus sebab penisnya serasa dipelintir saat Ayu meliuk-liukkan tubuhnya.
Ia meraih tubuh Ayu dari belakang. Ia remas-remas lembut kedua payudaranya yang terasa keras namun kenyal. Putingnya ia pilin-pilin dengan mesra. Ayu menghentikan sejenak buaian pantatnya. Dia mendesah, mendesis. Faried menikmati batang kemaluannya dan liang kemaluan Ayu sama-sama berdenyut-denyut. Diciuminya tengkuk perempuan itu, sesekali digigit-gigit enteng tengkuk, bahu kanannya, dan belakang telinganya.
“Putar sini Sayang!” pinta Faried pada Ayu untuk mengembalikan posisinya.
Wanita tersebut berbalik tanpa mencungkil batang kemaluan Faried dari liang kemaluannya. Batang kemaluan tersebut pun serasa terdapat yang memuntirnya. Sekarang dua-duanya berhadapan. Mereka saling memeluk, saling meraba. Faried mereasakan penisnya masih berdenyut-denyut di dalam liang kemaluan Ayu yang pun terasa berdenyut-denyut laksana menghisap batang kemaluan itu.
Mereka berpagutan, saling menggigit, menghisap dan mengulum. Tangan dan jemari Faried dengan lincahnya bergerak di sekujur badan Ayu, menciptakan wanita tersebut kegelian dan merinding. Sekitar separuh jam dalam posisi demikian, kesudahannya Faried menikmati ada sensasi spektakuler yang menciptakan tubuhnya serasa inginkan meledak. Ia merintih dan menata napasnya. Rasanya terdapat gelomHoney besar dari pinggangnya yang berkeinginan mencari solusi melalui batang kemaluannya.
“Sayang Ayu sayang…saya nyaris keluar tidak banyak lagi..” kata Faried terengah-engah.
“Barengan ya Honey!” jawab Ayu kemudian memagut bibir tebal lelaki itu
Faried juga balas menciumnya. Mereka sama-sama diam dalam posisi berciuman seraya terus memacu tubuh. Faried menikmati seperti terdapat aliran listrik mulai merayapi sekujur tubuhnya. Sekujur tubuhnya terasa hangat, begitu pun dengan tubuh Ayu. Sambil terus bermain lidah, mereka merasakan sensasi yang spektakuler itu.
“Aaaaahhhhh….!!” erang Faried melepas ciuman.
“Iyaahhhh….teruusss…..teruussshhh!!”Ayu pun merasakan urusan yang sama.
Faried merasa laksana melayang ke langit. Senyap, pandangan matanya berkunang-kunang walaupun memejamkan matanya. Rasa nikmat yang mengherankan disertai oleh rambatan sensasi menjalari masing-masing bagian tubuh mereka. Mereka mengejang sampai akhirnya menikmati suatu yang paling melegakan. Nikmat…cahaya cerah yang menciptakan berkunang-kunang itu pulang menjadi kegelapan.
Ia rubuh menindih tubuh Ayu, mereka terdiam dengan nafas naik turun. Ayu menatap wajah ndeso si sopir taksi, dia tersenyum penuh makna dan lantas mencium keningnya. Faried balas memagut kecil dagu Ayu. Tak lama, Ayu mendorong tubuh lelaki itu sampai berbaring saling bersebelahan.









No comments:
Post a Comment